blog*spot
get rid of this ad | advertise here
editorial indicomic.com: KOMIK INDONESIA

Wednesday, July 07, 2004

KOMIK INDONESIA

(Marcel Bonneff, Kepustakaan Populer Gramedia, 1998, ISBN: 979-9023-12-2)

Akhirnya saya dapatkan juga buku karya Marcel Bonneff
ini berkat bantuan beberapa rekan milis dan beberapa
rekan di KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku yang
aslinya merupakan disertasi Marcel Bonneff program
doktoral tahun 1972 (berbahasa Perancis tentunya)
akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Memang terlambat hampir 30 tahun, tapi tak mengapa daripada tidak sama sekali.

Pak Bonneff ini melakukan studi intensif selama 5
tahun atas budaya komik di Indonesia. Tidak hanya
industrinya, tapi juga perilaku konsumen, artis,
penerbit, Pemerintah, peranan taman bacaan, dll. Juga
tidak terbatas disitu, Bonneff juga menelusuri asal-usul
komik Indonesia yang jika dirunut sampai jauuuhhhh beberapa
abad silam. Salah satunya adalah relief di candi Prambanan
dan Borobudur. Walaupun bentuknya tidak seperti
komik jaman sekarang, namun kita dapat melihat bahwa para
relief itu 'berbicara dengan gambar'. Begitu pula dengan
berbagai wayang beber, yang juga 'bercerita dengan gambar'.

Perjalanan berlanjut kepada perkembangan industri komik di
Indonesia. Mulai dari jaman kolonial, revolusi, kemerdekaan,
sampai era pembangunan (awal 70an). Berbagai pengaruh budaya
juga disingkap seperti pengaruh Barat dan Cina, selain budaya
lokal setempat tentunya. Disini kita bertambah wawasan bahwa
budaya komik merupakan salah satu budaya yang paling kuat
akarnya di Indonesia. Mungkin memang tidak sekuat bentuk
sastra lainnya seperti puisi, prosa, pantun, dll. Tapi komik
mendapat tempat khusus diantara sekian banyak karya sastra tsb.

Bonneff juga membawa kita berkelana ke berbagai 'genre' komik
yang sempat populer saat itu. Katakanlah tiga kubu genre yang
memiliki 'fanbase' terkuat yaitu wayang, silat dan roman
percintaan. Kita pasti kenal dengan tokoh-tokoh komik silat
seperti Panji Tengkorak (karya Hans Jaladara) dan Si Buta dari
Gua Hantu (karya Ganes Th). Komik-komik roman percintaan mungkin
tidak punya tokoh sentral sekuat dunia silat, tapi komik ini tetap
digemari. Apalagi pada masa itu generasi muda sedang digandrungi
pengaruh barat. Lihat saja betapa besar pengaruh barat pada
modernisasi karya film/ sinema dan lagu-lagu pop kita. Sedangkan
kubu wayang merupakan fansbase terkuat diantara ketiganya.
Faktor ini lebih banyak ditentukan oleh mendarahdagingnya
filosofi wayang pada masyarakat Indonesia, terutama pulau
Jawa. Genre komik lainnya yang juga menonjol, walaupun tidak
sepopuler yang lain, adalah komik fantasi/ superhero. Pada
saat penelitian Bonneff, genre ini baru lahir dan belum terasa pengaruh
nya pada masyarakat. Komik yang sempat disinggung adalah
Gundala Putera Petir (karya Hasmi) dan Godam (karya Wid NS).
Masih ada lagi komik lainnya seperti komik humor.

Akhirnya Bonneff menyimpulkan bahwa komik sangat erat hubungannya
dengan budaya suatu bangsa. Komik merupakan alat komunikasi massa
yang menggabungkan khayalan dan pandangan tentang kehidupan
nyata yang dianggap sesuai dengan masyarakat luas. Dengan
segmen pembaca mayoritas berumur 15-25 tahun, komik memiliki
andil besar dalam perubahan perilaku kaum muda, mengembangkan
minat baca, dan pengisi waktu senggang (yang biasanya diisi
dengan ngobrol ngga karuan).

Bonneff juga melihat terjadinya perubahan besar pada komik
Indonesia sejak kemerdekaannya. Periode yang ditandai oleh
pengaruh besar dari Barat tidak lama; segera digantikan oleh
periode pemantapan 'kepribadian bangsa', suatu hasrat murni
yang mendorong komikus kembali ke wayang dan legenda daerah.
Interupsi di tahun 1965 membuat komik kembali ke fiksi murni,
dan mengolah mitologi yang tidak terikat suatu ideologi yaitu silat.

Pengaruh berbagai budaya juga tampak pada komik Indonesia, yang
memang selaras dengan adanya berbagai pengaruh budaya di tanah
Indonesia. Pengaruh agama Hindu, Islam dan Nasrani banyak nampak
sebagaimana pengaruh budaya Melayu, India, Arab, Belanda, Amerika
dan Cina. Pengaruh tidak hanya nyata dalam naskah cerita, namun
juga tampak pada bentuk anatomi isi komik.

Sayang penelitian komik berakhir di tahun 1972. Saya belum menemukan
teks penelitian lain atas jatuhnya industri komik Indonesia di awal
80an, seiring dengan hadirnya berbagai komik impor/ terjemahan
seperti Tintin, Asterix, Doraemon, Superman, Batman, X-Men,
Trigan, Storm, hingga era Crayon Sinchan dan Kungfu Boy. Pertengahan
90an hingga hari ini menunjukan bahwa industri komik Indonesia
perlahan-lahan mulai bangkit. Mulai dari lahirnya seniman generasi
muda, terselenggaranya berbagai pameran komik, sampai berbagai
usaha penerbitan/ cetak ulang komik-komik tempo doeloe, pengaruh
budaya asing pada para seniman muda, dll.

Atau mungkin kita sendiri sebaiknya bersama-sama melakukan
penelitian ini?[*]
Surjorimba Suroto

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

NSU - 4ever, 5210 - rulez
mudila
mudila

March 16, 2007 11:47 PM  

Post a Comment

<< Home